analisis struktur bangunan tahan gempa
penelitianini adalh untuk mengetahui bagaimana perilaku struktur bangunan baja ketika menerima beban gempa kuat. Adapun gempa kuat yang dimaksudkan adalah bangunan dianggap berada pada wilayah yang percepatan gempanya besar, yaitu pada wilayah 5 dan 6. Dalam penelitian ini direncanakan bangunan berada pada wilayah gempa 6. Dewobroto (2
berperilakunon-linier. Namun gedung asrama ini belum memiliki data ketahanan bangunan terhadap gaya gempa. Oleh karena itu diperlukan analisis terhadap bangunan ini dengan menggunakan salah satu metode analisis kekuatan bangunan terhadap gaya gempa yaitu metode pushover. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan program SAP2000.
BANGUNANTAHAN GEMPA BERBASIS STANDAR NASIONAL INDONESIA Steel, Six Sigma, Seven Tools. analisa, pengukuran, eliminasi estimasi ketidakpastian, bahan acuan gas, dinitrogen S. Suwandojo, 1999. Uji Eksperimental dan Desain Struktur bangunan Rendah Sebagai Alrternatif Perbaikan Struktur Bangunan-Penduduk di Daerah Gempa, Pusat Studi
23. Analisis Struktur 2.3.1. Statik Ekuivalen Analisis statik ekuivalen sesuai SNI 1726(2012), meliputi tahap perhitungan: 1. Periode fundamental (T). 2. Faktor keutamaan struktur (I) dan reduksi beban gempa ® 3. Gaya geser pada dasar statik ekuivalen (V). 4. Gaya horisontal tingkat/gaya lateral (Fi) 2.3.2. Direct Design Method (DDM)
PetaWilayah Gempa 33 2.9.4. Konsep Perencanaan Struktur Tahan Gempa 35 2.10. Kriteria Desain Perencanaan Struktur Gedung Tahan Gempa 36 2.10.1. Faktor Keutamaan (Ie) dan Kategori Resiko Struktur Bangunan 38 2.10.2. Klasifikasi Situs Tanah Untuk Desain Seismik 42 2.10.3. Parameter Respon Spektra Percepatan Gempa 43
Rencontre Tchat En Ligne Gratuit Sans Inscription.
Ilustrasi Gempa Bumi. ©2015 - Pada Sabtu 27/5, warga Salatiga dikejutkan dengan gempa berkekuatan M2,5. Walaupun kekuatannya lemah, namun getaran gempa begitu dirasakan warga. Berdasarkan informasi awal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG, pusat gempa tersebut berada di darat, dengan titik sekitar 15 km Barat Daya Kota Salatiga. Kedalaman pusat gempa sekitar 6 kilometer dengan guncangan yang dirasakan berkekuatan II MMI. Lalu seperti apa dampak yang ditimbulkan dari gempa tersebut? Berikut selengkapnya2 dari 5 halaman Penyebab Gempa ©2020 Kepala BMKG Stasiun Geofisika, Hery Susanto Wibowo, mengatakan bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara sejak Sabtu 27/5 hingga Senin 29/5 dini hari, tercatat sebanyak empat kejadian gempa yang dirasakan warga Salatiga dan sekitarnya dengan magnitudo 2,2 hingga 2,5. Menurutnya, rentetan gempa itu masih satu rangkaian dengan rentetan gempa yang terjadi pada tahun 2021. “Yang terlihat dari persebaran episenternya itu berdekatan dengan kejadian bulan Oktober sampai November 2021 yang dipicu oleh aktivitas sesar Merapi-Merbabu,” kata Hery, dikutip dari ANTARA pada Senin 29/5. 3 dari 5 halaman Kajian Mendalam ©2020 Lebih lanjut, Hery mengatakan bahwa di sekitar lokasi ada tiga sesar aktif, yaitu sesar Merapi-Merbabu, sesar Ungaran, dan sesar Rawapening. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan ada sesar-sesar lain yang belum teridentifikasi dan muncul di sekitar pusat gempa. Mengenai hal ini, Hery masih butuh melakukan kajian mendalam. Oleh karena itu ia belum bisa memastikan kalau gempa yang terjadi disebabkan oleh sesar-sesar tersebut. “Kalau dilihat dari persebarannya, rentetan gempa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir itu lebih mengarah ke sesar Merapi-Merbabu. Tapi masih butuh kajian lebih lanjut,” ungkap Hery. 4 dari 5 halaman Tetap Tenang ©2017 Hery mengatakan BMKG mengimbau warga Kota Salatiga agar tetap tenang terhadap rentetan gempa yang terjadi selama dua hari itu. Ia juga meminta agar warga tidak terpengaruh isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa. Pastikan juga tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah,” kata Hery. 5 dari 5 halaman Struktur Bangunan Tahan Gempa ©2016 Hery mengatakan berdasarkan peta geologi tahun 1975 khususnya lembar Magelang dan Semarang diketahui bahwa wilayah Salatiga, Ambarawa, dan sekitarnya tersusun oleh endapan aluvial yang dapat memperbesar gelombang atau gempa meskipun bermagnitudo kecil. Oleh karena itu, masyarakat setempat diimbau untuk membangun rumah yang tahan gempa guna mengantisipasi terjadinya kerusakan ketika terjadi gempa. Ia menambahkan, rentetan gempa bermagnitudo kecil di Salatiga dan sekitarnya diharapkan dapat meredam kemungkinan terjadinya gempa bermagnitudo yang lebih besar karena energinya telah dirilis melalui gempa-gempa kecil. Terkait dengan rentetan gempa pada tahun 2021 di Salatiga dan sekitarnya, dia mengatakan berdasarkan data, magnitudo terbesar hanya mencapai 3,5. "Berdasarkan survei makro atau survei langsung ke lapangan memang di sana terdapat kerusakan seperti retak-retak pada bangunan. Tentunya, kita juga harus melihat struktur bangunan yang ada di sana, apakah memang tahan gempa atau sesuai dengan kaidah pembangunan infrastruktur," katanya. [shr]
Buku ini merupakan rangkaian materi yang telah dan akan digunakan sebagai bahan dalam perkuliahan di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember khususnya bagi yang menempuh mata kuliah Rekayasa Gempa dan Dinamika Struktur. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free... Gempa bumi yang terjadi di Indonesia dan di dunia telah menyebabkan jutaan korban jiwa, keruntuhan dan kerusakan ribuan infrastruktur serta bangunan, dan dana trilyunan rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia, 2010. Untuk meminimalkan akibat yang ditimbulkan oleh gempa dapat berupa 1 penyediaan peralatan keadaan darurat emergency, 2 tempat tinggal atau bangunan yang tahan gempa, dan 3 prediksi terhadap gempa Krisnamurti, 2009. ... Parmo ParmoRepairing the Strength and Ductility of Reinforced Concrete Column That Got Earthquake using Glass Fiber Reinforced Polymer. This study aims to identify the additional strength and ductility of reinforced concrete columns after being retro- fitted using glass fiber reinforced polymer GFRP and got the brunt of the earthquake. This study uses two objects tested columns, which are being tested for three times. Each column size is 350 x 350 x 1100 mm with f'c = MPa and fy = MPa. The testing is performed by giving a constant axial load of 748 kN and cyclic lateral load using control displacement method in order to simulate the brunt of earthquake. The results show an increase in lateral capacity of column by Retrofitting the column with GFRP has a ductile property, which is shown by the increase of the displacement ductility by and curvature ductility by Gempa bumi yang terjadi di Indonesia dan di dunia telah menyebabkan jutaan korban jiwa, keruntuhan dan kerusakan ribuan infrastruktur serta bangunan, dan dana trilyunan rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia, 2010. Untuk meminimalkan akibat yang ditimbulkan oleh gempa dapat berupa 1 penyediaan peralatan keadaan darurat emergency, 2 tempat tinggal atau bangunan yang tahan gempa, dan 3 prediksi terhadap gempa Krisnamurti, 2009. ...Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan kekuatan dan daktilitas kolom beton bertulang setelah diretrofit menggunakan glass fiber reinforced polymer GFRP dan mendapat beban gempa. Penelitian ini menggunakan benda uji dua buah kolom dengan tiga kali pengujian. Masing-masing ukuran kolom 350 x 350 x 1100 mm dengan f’c = 20,34 MPa dan fy = 549,94 MPa. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban aksial konstan 748 kN dan beban lateral siklik yang menggunakan metode displacemet control untuk mensimulasikan beban gempa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kapasitas lateral pada kolom sebesar 43,96%. Retrofit kolom dengan GFRP bersifat daktail yang ditunjukkan dengan meningkatnya daktilitas perpindahan sebesar 129,14% dan daktilitas kurvatur sebesar 118,27%.... Gempa bumi yang terjadi di Indonesia dan di dunia telah menyebabkan jutaan korban jiwa, keruntuhan dan kerusakan ribuan infrastruktur serta bangunan, dan dana trilyunan rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia, 2010. Untuk meminimalkan akibat yang ditimbulkan oleh gempa dapat berupa 1 penyediaan peralatan keadaan darurat emergency, 2 tempat tinggal atau bangunan yang tahan gempa, dan 3 prediksi terhadap gempa Krisnamurti, 2009. ...Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan kekuatan dan daktilitas kolom beton bertulang setelah diretrofit menggunakan glass fiber reinforced polymer GFRP dan mendapat beban gempa. Penelitian ini menggunakan benda uji dua buah kolom dengan tiga kali pengujian. Masing-masing ukuran kolom 350 x 350 x 1100 mm dengan f’c = 20,34 MPa dan fy = 549,94 MPa. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban aksial konstan 748 kN dan beban lateral siklik yang menggunakan metode displacemet control untuk mensimulasikan beban gempa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kapasitas lateral pada kolom sebesar 43,96%. Retrofit kolom dengan GFRP bersifat daktail yang ditunjukkan dengan meningkatnya daktilitas perpindahan sebesar 129,14% dan daktilitas kurvatur sebesar 118,27%.... Each column size is 350 x 350 x 1100 mm with f'c = 20. 34 Krisnamurti, 2009. ...The city development in Indonesia is more oriented to the overground space and this is because the urban population has increased significantly and it is incomparable with the land available in the cities. The number of high-rise buildings and skyscrapers also marks this phenomenon. However, high-rise buildings and skyscrapers have the potential to be vulnerable to the earthquake hazard in Indonesia particularly those located at the high risk seismic regions. In the design of seismic resistant buildings, there are two important aspects required to be considered, namely strength and ductility. The deformation capability and better innovative reinforcement connection become primary consideration in the design of seismic resistant structures. From the tensile tests of reinforcing steel bars with clamps, it is shown that D13 bars has the yield and ultimate tensile strengths of and MPa, respectively, with the maximum load of 4,757 kg and the maximum elongation of 40%. As for the D16 bars, the yield and ultimate tensile strengths of and 327 605 MPa, respectively, with the maximum load of 6,717 kg and the elongation of 32%. In the study, two pieces of steel clamps were tested, it is found that to obtain better results there is a need to increase the number and improve the quality of material of the steel Wahyu AnggraeniErno Widayanto Dwi NurtantoMost of Indonesia area is an earthquake- prone region. This is caused by the confluence of three major plates world that are subduction. Indo-Australian Plate colliding with the Eurasian plate off the coast of Sumatra, Java and Nusa Tenggara, while the Pacific plate in northern Guinea and North Maluku. In the vicinity of the meeting location this plate collision energy accumulated in the form of earthquake. The quake destroyed much of the multi-storey buildings that do not have adequate strength. Therefore , the higher the building, the greater the effects of the earthquake were received by the building. One way to acquire resistance to earthquake response was to add rigidity to a building. How to obtain the stiffness of a building is to install bracing for high-rise buildings. The purpose of this analysis was conducted to determine usage behavior particularly bracing displacement. The Results of this analysis showed a reduction in horizontal deviation of the building due to the addition of frame bracing. The difference in the percentage of horizontal deviation without bresing building and building using bresing X is While the difference in the percentage of horizontal deviation without order bresing building and building using bresing V is pushover analysis , bracing, displacement,earthquake AbstrakSebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah rawan gempa. Hal ini disebabkan oleh pertemuan tiga lempeng utama dunia yang bersifat subdaksi. Lempeng Indo- Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara, sedangkan lempeng Pasific di utara Irian dan Maluku Utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sehingga lepas berupa gempa bumi. Gempa banyak menghancurkan bangunan- bangunan bertingkat yang tidak mempunyai kekuatan yang memadai. Oleh karena itu, semakin tinggi bangunan maka semakin besar pula efek gempa yang diterima oleh bangunan tersebut. Salah satu cara untuk memperoleh ketahanan terhadap respon gempa adalah menambah kekakuan pada suatu bangunan. Cara memperoleh kekakuan suatu bangunan adalah dengan memasang pengekang bracing untuk bangunan tinggi. Tujuan dari analisa ini dilakukan untuk mengetahui perilaku pemakaian bracing khususnya displacement. Hasil dari analisa ini menunjukkan terjadinya pengurangan simpangan horizontal gedung karena adanya penambahan rangka bracing. Selisih presentase simpangan horizontal gedung tanpa bresing dan gedung dengan menggunakan bresing X adalah 82,519%. Sedangkan selisih presentase simpangan horizontal gedung tanpa rangka bresing dan gedung dengan menggunakan bresing V adalah 64,904%.Kata kunci analisa pushover , bracing, displacement, gempa Tavio TavioPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan kekuatan dan daktilitas kolom beton bertulang setelah diretrofit menggunakan glass fiber reinforced polymer GFRP dan mendapat beban gempa. Penelitian ini menggunakan benda uji dua buah kolom dengan tiga kali pengujian. Masing-masing ukuran kolom 350 x 350 x 1100 mm dengan f’c = 20,34 MPa dan fy = 549,94 MPa. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban aksial konstan 748 kN dan beban lateral siklik yang menggunakan metode displacemet control untuk mensimulasikan beban gempa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kapasitas lateral pada kolom sebesar 43,96%. Retrofit kolom dengan GFRP bersifat daktail yang ditunjukkan dengan meningkatnya daktilitas perpindahan sebesar 129,14% dan daktilitas kurvatur sebesar 118,27%.ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.
Gempa bumi menyebabkan kerusakan bangunan dan korban jiwa. Kota Ternate tercatat telah terjadi gempa bumi yang belum lama terjadi, yaitu pada 15 November 2014 berkekuatan 7,3 skala richter SR, pada 25 Januari 2015 berkekuatan 5,4 SR, pada 8 Juni 2016 berkekuatan 6,6 SR dan masih banyak lagi gempa yang telah terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur analisis pushover untuk mengevaluasi kinerja struktur gedung dan untuk mengetahui pola keruntuhan struktur gedung. Penelitian ini menggunakan metode Static Pushover Analysis menggunakan aturan FEMA356 2000. Penelitian menunjukan bahwa ada beberapa kesimpulan. Pertama, perpindahan hasil pushover maksimum max arah XZ = 52,046 mm > target perpindahan t = 42,874 mm. Kedua, max arah YZ = 10,693 mm t, karena skema distribusi sendi-plastis tidak memperlihatkan komponen struktur melewati Immediate Occupany IO, tapi ada kemungkinan terjadi balok kuat- kolom lemah apabila diperbesar step pembebanan, hal ini ditandai dengan adanya beberapa kolom yang duluan mencapai kinerja IO sebelum balok. Keempat, Kinerja komponen struktur arah YZ masih dalam keadaan aman karena max target perpindahan t = 42,874 mm. Kedua, max arah YZ = 10,693 mm t, karena skema distribusi sendi-plastis tidak mempe rlihatka n komponen struktur melewati Immediate Occupany IO, tapi ada kemungkinan terjadi balok kuat-kolom lemah apabila diperbesar step pembebanan, hal ini ditandai dengan adanya beberapa kolom yang duluan mencapai kinerja IO sebelum balok. Keempat, Kinerja komponen struktur arah YZ masih dalam keadaan aman kare na max 0,8 Vstatik FX = 3470256,57 > 3470183,4 FY = 3470307,63 > 3470183,4 b. Kontrol Partisipasi Massa Persyaratan partisipasi massa > 90% Hasil partisipasi massa > 90% c. Kontrol perioda Fundamental Struktur T Persyaratan Tci 42,874 mm t. Distribusi sendi plastis yang terjadi pada step-10 dan step-11 memperlihatkan tidak ada komponen struktur yang melewati batas kinerja Immediate Occupany IO sehingga dapat dikatakan kinerja komponen struktur masih dalam keadaan aman. Tapi ada komponen struktur kolom yang memperlihatkan telah sampai kinerja Immediate Occupany IO, sementara ada beberapa komponen struktur balok yang belum melewati batas kinerja Immediate Occupany IO sehingga ada kemungkinan terjadi kolom lemah-balok kuat. Seminar Nasional Keteknikan SINTEK 2018 TS - 86 Sendi Plastis Arah X Distribusi sendi plastis arah YZ ditampilkan pada Gambar 15 dari 8 s/d 11, karena dari tahap 8 mulai terjadi level kinerja Immediate Occupany IO. Gambar 15. Mekanisme keruntuhan arah YZ Target perpindahan t struktur untuk pembebanan arah-YZ gedung adalah 42,874 mm berada Diatas step-11, sehingga evaluasi komponen struktur tidak dilakukan karena displacement step-11 yang terjadi 10,692687 mm 42,874 mm. 2. Perpindahan hasil pushover maksimum δt max arah YZ yaitu pada step 11 lebih kecil dari target perpindahan δt, dengan angka 10,692687 mm δt, karena pada skema distribusi sendi plastis tidak memperlihatkan komponen struktur yang melewati Immediate Occupany IO, tapi ada kemungkinan terjadi balok kuat kolom lemah apabila diperbesar step pembebanan, hal ini ditandai dengan ada beberapa kolom yang duluan mencapai kinerja Immediate Occupany IO sebelum balok. 4. Kinerja komponen struktur arah YZ masih dalam keadaan aman karena δt max < δt dan skema distribusi sendi plastis tidak memperlihatkan komponen struktur yang melewati kinerja Immediate Occupany IO B. Saran Untuk menyempurnakan penelitian ini kedepannya perlu adanya saran sebagai berikut 1. Analisis pushover perlu dicoba dengan menggunakan referensi ATC-40 untuk membandingkan dengan FEMA 356. 2. Membandingkan hasil evaluasi kinerja gempa struktur metode distribusi statik ekuivalen dengan metode analisis respon riwayat waktu. 3. Analisis pushover perlu dicoba pada gedung-gedung tinggi lainya untuk mendalami perilaku seismik gedung bertingkat banyak. DAFTAR PUSTAKA Afandi, Nur Rachmad., 2010, Evaluasi Kinerja Seismik Struktur Beton Dengan Analisa Pushover Menggunakan Program SAP2000, Laporan Tugas Akhir, Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Anonimus, 1983, Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung, Yayasan LPMB, Bandung. Anonimus, 2012, Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, SNI 17262012, Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. Anonimus, 2013, Beban Minimum Untuk Perancangan Bagunan Gedung dan Struktur Lain, SNI 17272013, Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. Anonimus, 2013, Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung, SNI 28472013, Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. ASCE, 2000, FEMA 356 - Prestandard And Commentary For The Seismic Rehabilitation Of Building, Federal Emergency Management Agency, Washington, Nurdianti, Ulfa., 2013, Studi Keandalan Struktur Gedung Tinggi Tidak Beraturan Menggunakan Pushover Analysis Pada Tanah Medium, Laporan Tugas Akhir, Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pranata, Yosafat Aji., 2006, “Evaluasi Kinerja Gedung Beton Bertulang Tahan Gempa dengan Pushover Analysis Sesuai ATC-40, FEMA 356, dan FEMA 440”, Jurnal Teknik Sipil, Vol. 3, No. 1, Januari 2006. Seminar Nasional Keteknikan SINTEK 2018 TS - 87 Satyarno, Iman. dkk. 2012, Belajar SAP2000 Analisis Gempa, Zamil Publishing, Yogyakarta. Setiawan, Agus. 2016, Perancangan Struktur Beton Bertulang Berdasarkan SNI 28472013, Penerbit Erlangga, Jakarta. Sultan, Mufti Amir., 2016, “Evaluasi Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Dengan Analisa Pushover”, Jurnal Sipil Sains, Vol. 6, No. 11, Maret 2016. Sumarwan., 2010, Evaluasi Kinerja Struktur Beton Tahan Gempa Dengan Analisis Pushover Menggunakan Software SAP2000, Laporan Tugas Akhir, Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Tavio. dan Usman, Wijaya. 2018, Desain Rekayasa Gempa Berbasis Kinerja Performance Based Design, Edisi 2, Penerbit Andi, Yogyakarta. Titono, Michael., 2010, Analisa Ketahanan Gempa Dalam Rangka Konservasi Bangunan Bersejarah, Studi Kasus Gedung X, Laporan Tugas Akhir, Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok. Yosafat Aji PranataSeismic resistant building design in Indonesia become very important since most territories are classified in moderate and high seismic zone. Therefore three open frame buildings with special and intermediate moment resisting frame systems, ten-stories, regular reinforced concrete buildings, are studied and designed in according to SNI 1726 2002 and SNI 03-2847 2002. The seismic performances of these buildings are evaluated using Static Nonlinear Pushover Analysis by ETABS. The target displacement from performance evaluation using ATC-40 for building type I m, building type II m and building type III m ; from FEMA 356 building type I m, buildings type II m and building type III m; from FEMA 440 building type I m, building type II m and building type III m. Target displacements from SNI 1726-2002 are similar for each buildings at Pembebanan Indonesia Untuk Gedung, Yayasan LPMBAnonimusAnonimus, 1983, Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung, Yayasan LPMB, Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non GedungAnonimusAnonimus, 2012, Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, SNI 17262012, Badan Standardisasi Nasional, Minimum Untuk Perancangan Bagunan Gedung dan Struktur LainAnonimusAnonimus, 2013, Beban Minimum Untuk Perancangan Bagunan Gedung dan Struktur Lain, SNI 17272013, Badan Standardisasi Nasional, Beton Struktural Untuk Bangunan GedungAnonimusAnonimus, 2013, Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung, SNI 28472013, Badan Standardisasi Nasional, 356 -Prestandard And Commentary For The Seismic Rehabilitation Of BuildingD C WashingtonUlfa NurdiantiASCE, 2000, FEMA 356 -Prestandard And Commentary For The Seismic Rehabilitation Of Building, Federal Emergency Management Agency, Washington, Nurdianti, Ulfa., 2013, Studi Keandalan Struktur Gedung Tinggi Tidak Beraturan Menggunakan Pushover Analysis Pada Tanah Medium, Laporan Tugas Akhir, Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin, Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Dengan Analisa PushoverMufti SultanAmirSultan, Mufti Amir., 2016, "Evaluasi Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Dengan Analisa Pushover", Jurnal Sipil Sains, Vol. 6, No. 11, Maret Rekayasa Gempa Berbasis Kinerja Performance Based DesignTavioWijaya Dan UsmanTavio. dan Usman, Wijaya. 2018, Desain Rekayasa Gempa Berbasis Kinerja Performance Based Design, Edisi 2, Penerbit Andi, Ketahanan Gempa Dalam Rangka Konservasi Bangunan BersejarahMichael TitonoTitono, Michael., 2010, Analisa Ketahanan Gempa Dalam Rangka Konservasi Bangunan Bersejarah, Studi Kasus Gedung X, Laporan Tugas Akhir, Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok.
The needs of Indonesian people for places to live and work keeps increasing along with the improvement of its population growth. Unfortunately, the areas for developing buildings get decreasing. One of solution for overcoming this problem is by conducting vertical development such as building an apartment. Many apartments with various innovations have been developed by developers to attract consumers such as the existence of swimming pool on the top of building. However, this sort of vertical development plan is very prone to earthquake as Indonesia has high potential of it. This research analyzed the structural behavior of buildings with and without swimming pool. In addition, it analyzed the need of reinforcement for apartment building structure with swimming pool on the top of building toward the seismic load based on SNI 17262019. The analysis of seismic load employed spectrum response method. Meanwhile, the need of reinforcement was analyzed based on the plan of dual system by combining Special Moment Resisting Frame System and Special Structural Wall System. The control upon the structural behavior involved the provision of greater drift and period of building structure with swimming pool than without it. The results of research demonstrated that the need of reinforcement for both floor plate thicknesses was Ø10-100. The needs of beam reinforcement in the dimension 350/500 were 5D19 for pedestal area and 3D19 for ground area. Besides, column 750/750 required reinforcement 28D32, whereas the area of beam-column connections necessitated reinforcement 3 feet Ø16-100. The shear wall in 350 mm thick needed 2 rows reinforcement of 28D36. The wall of swimming pool planned in 150 mm thick required reinforcement Ø10-100. Furthermore, the plate for swimming pool base in 200 mm thick demanded reinforcement of Ø10-50 for pedestal area and Ø10-100 for ground area. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Analisis Perhitungan Struktur Bangunan Tahan Gempa dengan Kolam Renang Berdasarkan SNI 17262019 Heri Istiono1*, Letisia Khoe1 1Program Studi Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya Email heriistiono Abstract The needs of Indonesian people for places to live and work keeps increasing along with the improvement of its population growth. Unfortunately, the areas for developing buildings get decreasing. One of solution for overcoming this problem is by conducting vertical development such as building an apartment. Many apartments with various innovations have been developed by developers to attract consumers such as the existence of swimming pool on the top of building. However, this sort of vertical development plan is very prone to earthquake as Indonesia has high potential of it. This research analyzed the structural behavior of buildings with and without swimming pool. In addition, it analyzed the need of reinforcement for apartment building structure with swimming pool on the top of building toward the seismic load based on SNI 17262019. The analysis of seismic load employed spectrum response method. The needs of beam reinforcement in the dimension 350/500 were 5D19 for pedestal area and 3D19 for ground area. Besides, column 750/750 required reinforcement 28D32, whereas the area of beam-column connections necessitated reinforcement 3 feet Ø16-100. The shear wall in 350 mm thick needed 2 rows reinforcement of 28D36. The wall of swimming pool planned in 150 mm thick required reinforcement Ø10-100. Furthermore, the plate for swimming pool base in 200 mm thick demanded reinforcement of Ø10-50 for pedestal area and Ø10-100 for ground area. Keywords Structural Behavior Control, Structural Calculation, Dual System, Special Moment Resisting Frame System, Special Structural Wall System. Abstrak Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, kebutuhan akan tempat tinggal maupun tempat bekerja pun meningkat. Akan tetapi, luas lahan pembangunan semakin menurun. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah pembangunan yang dilakukan secara vertikal, seperti apartemen. Semakin banyak pembangunan apartemen yang dilakukan oleh berbagai developer menghasilkan banyak inovasi untuk menarik perhatian konsumen, seperti kolam renang pada atap bangunan. Namun, perencanaan bangunan vertikal seperti itu rawan terhadap gempa bumi. Indonesia memiliki potensi gempa yang tinggi. Pada penelitian ini dianalisis perilaku struktur bangunan dengan kolam renang dan tanpa kolam renang, serta kebutuhan tulangan struktur gedung apartemen dengan kolam renang di atap bangunan terhadap beban gempa berdasarkan SNI 17262019. Analisis beban gempa menggunakan metode respon spektrum. Kebutuhan tulangan balok dengan dimensi 350/500, yaitu 5D19 pada daerah tumpuan dan 3D19 pada daerah lapangan. Kolom 750/750 membutuhkan tulangan sebanyak 28D32. Daerah hubungan balok kolom membutuhkan tulangan 3 kaki Ø16-100. Dinding geser dengan tebal 350 mm membutuhkan tulangan sebanyak 2 baris 28D36-175. Dinding kolam renang direncanakan dengan tebal 150 mm membutuhkan tulangan Ø10-100. Sedangkan, pelat dasar kolam renang dengan tebal 200 mm membutuhkan tulangan Ø10-50 untuk daerah tumpuan dan Ø10-100 untuk daerah lapangan. Kata kunci Kontrol Perilaku Struktur, Perhitungan Struktur, Sistem Ganda, Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus, Sistem Dinding Struktural Khusus. 146 Jurnal Teknik Sipil, Vol 1, No 2, November 2020 145–150 1. Pendahuluan Ketersediaan lahan diberbagai daerah di Indonesia semakin habis, terutama di kota-kota besar yang padat penduduk, seperti Surabaya. Banyaknya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan lahan pembangunan sebagai tempat tinggal, bekerja dan sebagainya semakin meningka. Solusi mengatasi permasalahan yang terjadi adalah pembangunan yang dilakukan secara vertikal, seperti apartemen, perkantoran dan sebagainya. Apartemen merupakan bangunan tinggi dengan bentuk fisik yang langsing dan tinggi yang mana beban lateral, dalam hal ini adalah beban gempa sangat mempengaruhi struktur bangunan tersebut. Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi gempa bumi yang tinggi karena terletak pada pertemuan lempeng-lempeng dunia. Gempa yang terjadi di Indonesia banyak memakan korban jiwa dan dapat menimbulkan bencana alam lainnya, seperti tsunami. Umumnya digunakan struktur bangunan yang beraturan untuk bangunan tinggi karena dinilai lebih aman ketika beban gempa bekerja pada struktur bangunan [1]. Hal tersebut menyebabkan bentuk fisik apartemen antara satu dengan yang lainnya relatif sama. Oleh sebab itu, developer property dapat menambahkan fasilitas-fasilitas umum, seperti kolam renang yang terletak pada atap bangunan untuk menambahkan nilai jual apartemen tersebut. Keberadaan kolam renang tersebut mengakibatkan massa yang besar pada struktur bangunan. Besarnya massa tambahan pada struktur bangunan mengakibatkan semakin besar beban inersia yang timbul saat gempa terjadi [2]. Adanya kolam renang juga menyebabkan displacement, simpangan antar lantai dan periode yang terjadi lebih besar [3]. Dalam penelitian menggunakan apartemen One Galaxy Surabaya sebagai referensi bangunan apartemen dengan kolam renang yang terletak pada posisi teratas bangunan. Analisis akan dilakukan terhadap struktur bangunan dengan dan tanpa kolam renang untuk mengetahui perbandingan kontrol struktur bangunan yang dihasilkan. Perhitungan struktur dilakukan pada struktur dengan kolam renang. 2. Metode Metode yang digunakan adalah pengumpulan data-data bangunan yang diperlukan untuk penelitian, seperti sistem yang digunakan, spesifikasi material yang digunakan, pembebanan, persyaratan gedung tahan gempa dan perhitungan struktur bangunan. Perencanaan struktur bangunan dapat dilihat pada diagram alir pada gambar 1. Gambar 1. Diagram Alir Penelitian Istiono, Analisis Perhitungan Struktur Bangunan Tahan Gempa dengan Kolam Renang Berdasarkan SNI 17262019 147 3. Hasil dan Pembahasan Pembebanan Dalam penelitian ini pembebanan direncanakan dalam 2 kondisi, yaitu kondisi dengan kolam renang dan tanpa kolam renang seperti pada tabel 1. Tabel 1. Pembebanan Gravitasi Struktur dengan Kolam Renang Struktur Tanpa Kolam Renang Penggantung langit-langit kN/m2 Mekanikal elektrikal kN/m2 Beban gempa akan dianalisis menggunakan analisis respon spektrum berdasarkan SNI 17262019. Dari analisis tersebut, diperoleh nilai parameter-parameter yang dibutuhkan. Tabel 2. Analisis Respon Spektrum Percepatan gempa periode pendek 0,2 detik Percepatan gempa periode 1 detik Faktor amplifikasi getaran periode pendek 0,2 detik Faktor amplifikasi getaran periode 1 detik Percepatan respon spektral periode pendek 0,2 detik Percepatan respon spektral periode 1 detik Desain percepatan spektral periode pendek 0,2 detik Desain percepatan spektral periode 1 detik 148 Jurnal Teknik Sipil, Vol 1, No 2, November 2020 145–150 Preliminary Design Bagian struktural pada kedua struktur bangunan memiliki dimensi rencana yang sama. Dimensi awal balok tergantung pada posisi balok tersebut. Posisi balok ada dua, yaitu satu ujung menerus dan dua ujung menerus. Dimensi balok yang digunakan adalah 350/500 untuk semua balok pada kedua bangunan. Akan tetapi, pada balok yang menjadi tumpuan kolam renang, dimensi yang digunakan adalah 600/900. Pelat lantai yang direncanakan termasuk kategori pelat lantai dua arah karena ly/lx < 2. Tebal pelat lantai yang digunakan ada dua, yaitu 120 mm pada lantai 1-19 dan 200 mm pada lantai 20. Dimensi kolom dapat ditentukan dari perhitungan beban-beban gravitasi yang membebani kolom tiap lantai. Sehingga, kolom direncanakan memiliki dimensi yang berbeda setiap 5 lantai, yaitu 750/750 untuk lantai 1-5, 700/700 untuk lantai 6-10, 650/650 untuk lantai 11-15, dan 600/600 untuk lantai 16-20. Tebal dinding geser diperoleh antara dua nilai yang terbesar ditambahkan dengan tebal selimut beton. Jadi, tebal dinding geser yang digunakan adalah 350 mm. Sedangkan, dimensi kolam renang yang direncanakan untuk dinding memiliki ketebalan 150 mm dan pelat dasar 200 mm. Kontrol Perilaku Struktur Setelah pembebanan dan preliminary design telah selesai perhitungkan, maka data-data tersebut dapat dimodelkan menggunakan program bantuan, yaitu ETABS versi 17. Dari hasil analisis struktur yang dilakukan ETABS, dilakukan kontrol perilaku struktur bangunan tinggi yang ditetapkan. Dari kedua struktur yang dimodelkan, struktur tanpa kolam renang lebih lentur dibandingkan dengan struktur dengan kolam renang. Hal tersebut dilihat dari nilai periode struktur dengan kolam renang sebesar 2,99 detik. Sedangkan, struktur tanpa kolam sebesar 3,24 detik. Displacement yang terjadi pada struktur dengan kolam renang sebesar 92,83 mm. Sedangkan, struktur tanpa kolam renang sebesar 106,15 mm. Dari data yang telah diperoleh diketahui bahwa struktur dengan kolam renang menyebabkan perpindahan yang terjadi lebih kecil. Dalam hal ini, kolam renang selain menjadi beban tambahan yang besar sekaligus membantu struktur untuk tidak terlalu mengalami perpindahan ketika beban gempa bekerja. Perhitungan Struktur Perhitungan struktur dilakukan hanya pada struktur dengan kolam renang. Dari analisis struktur yang telah dilakukan dan dikontrol, maka diperoleh gaya dalam yang bekerja pada bagian struktural bangunan ketika beban gempa terjadi. Perhitungan menggunakan metode sistem rangka pemikul momen khusus dan sistem dinding struktural khusus berdasarkan SNI 28472013. Perhitungan kebutuhan tulangan pelat lantai menggunakan metode koefisien momen. Sehingga, diperoleh kebutuhan tulangan untuk masing-masing daerah pelat lantai kedua pelat lantai. Istiono, Analisis Perhitungan Struktur Bangunan Tahan Gempa dengan Kolam Renang Berdasarkan SNI 17262019 149 Tabel 3. Kebutuhan Tulangan Pelat Lantai Perhitungan kebutuhan tulangan balok 350/500 dibedakan setiap 5 lantai. Perhitungan ini. Sehingga, kebutuhan tulangan balok diperoleh sebagai berikut. Tabel 4. Kebutuhan Tulangan Balok Perhitungan kebutuhan tulangan pada kolom dibedakan setiap 5 lantai. Sehingga, diperoleh kebutuhan tulangan kolom sebagai berikut. Kebutuhan tulangan pada dinding geser adalah 2 bari 24D26. Sedangkan, untuk tulangan transversal digunakan tulangan 2Ø16-250. Kebutuhan tulangan struktur kolam renang untuk pelat dasarnya adalah Ø10-100 untuk daerah lapangan dan Ø10-50 untuk daerah tumpuan. Sedangkan, pada dinding kolam dibutuhkan tulangan Ø10-100 untuk daerah tumpuan dan Ø8-200 untuk daerah lapangan. 150 Jurnal Teknik Sipil, Vol 1, No 2, November 2020 145–150 4. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa struktur dengan kolam renang lebih kaku dibandingkan dengan struktur tanpa kolam renang. Ketika beban gempa bekerja pada struktur, kolam renang dapat membantu struktur dalam menerima beban tersebut. Hal ini dapat dilihat dari nilai perpindahan yang lebih kecil dibandingkan dengan struktur tanpa kolam renang. Dengan adanya kolam renang pada atap bangunan menyebabkan gaya dalam yang terbesar terjadi pada struktur balok bagian atas. Hal tersebut dapat dilihat dari tulangan balok yang dibutuhkan pada masing-masing lantai yang meningkat seiring dengan bertambahnya lantai. Dimensi balok yang ditumpu kolam renang juga memiliki dimensi yang besar, beserta tulangannya. Referensi [1] Tavio dan Usman Wijaya. 2018. Desain Rekayasa Gempa Berbasis Kinerja. Yogyakarta Penerbit Andi. [2] Imran, Iswandi dan Fajar Hendrik. 2016. Perencanaan Lanjut Struktur Beton Bertulang. Bandung ITB press. [3] Palit, Heronica Imanuel dkk. 2019. Analisa Bangunan Bertingkat dengan Kolam Renang Akibat Gempa. Jurnal Sipil Statik, Vol 7 6 743 – 748. [4] Rumimper, Berny Andreas Engelbert dkk. 2013. Perhitungan Inter Story Drift pada Bangunan tanpa Set-back dan dengan Set-back Akibat Gempa. Jurnal Sipil Statik, Vol 1 6 408 – 414. [5] Bayyinah, Dilla Ayu Laila Nurul dan Faimun. 2017. Studi Perbandingan Analisis Respon Spektra dan Time History untuk Desain Gedung. Jurnal Teknik ITS Vol. 6, C33 – C38. ... Meningkatnya perkembangan pada tempat wisata di Indonesia, harusnya diimbangi juga dengan berkembangnya sarana prasarana khususnya dalam jasa property, yaitu tempat penginapan seperti hotel, vila. Untuk menunjang pembangunan Hotel ini diperlukan perencanaan struktur yang merupakan unsur penting dalam pembangunan yang tentunya mengikuti peraturan yang berlaku saat ini [7] [12]. Tetapi, mengingat di Indonesia merupakan negara yang sangat berpotensi mengalami gempa, karena berada di wilayah jalur gempa pasifik dan jalur gempa asia Untuk membangun struktur yang kuat menahan gempa, pembangunan Hotel Nukila Ternate dirancang dengan menggunakan struktur baja [1] [11]. ...Heri IstionoDwi Cahyani PutriIndonesia merupakan negara yang berpotensi mengalami gempa, untuk pembangunan hotel ini diperlukan perencanaan struktur yang kuat dan ekonomis. Material baja adalah salah satu bahan konstruksi yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan material konstruksi lainnya, struktur baja castellated beam menjadi pilihan untuk membangun Hotel Nukila. Pada tahun 2019 telah terjadi Gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang Kota Ternate. Pada saat proses pembangunan hotel ini, telah terjadi torsi ketika dilakukan erection. Maka dari itu, perlu dilakukan evaluasi pada perencanaan struktur yaitu berupa evaluasi kinerja dan kapasitas struktur dengan menggunakan metode statistik non-linier. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa kontrol perilaku struktur didapatkan nilai partisi massa 93,80% pada sumbu X dan 92,80% yaitu pada sumbu Y, pada modal ke 14. Pada sumbu X dapat menahan gaya geser dasar sebesar 73,15% dan 72,59%, untuk sumbu Y. Untuk semua struktur castellated beam termasuk kedalam penampang kompak sehingga kekuatan rencana pada balok mampu menahan kekuatan geser ultimate sebesar 114240 Kolom komposite juga termasuk kedalam penampang kompak dan kekuatan rencana kolom didaptkan 9832,84 kN yang artinya mampu menahan kuat tekan aksial sebesar 9809,28 kN. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa kinerja dari struktur bangunan tersebut termasuk kedalam kategori Immediate Occupancy untuk sumbu X dan Life Safety untuk sumbu Rekayasa Gempa Berbasis KinerjaTavio Dan Usman WijayaTavio dan Usman Wijaya. 2018. Desain Rekayasa Gempa Berbasis Kinerja. Yogyakarta Penerbit Lanjut Struktur Beton BertulangIswandi ImranDan FajarHendrikImran, Iswandi dan Fajar Hendrik. 2016. Perencanaan Lanjut Struktur Beton Bertulang. Bandung ITB Bangunan Bertingkat dengan Kolam Renang Akibat GempaPalitPalit, Heronica Imanuel dkk. 2019. Analisa Bangunan Bertingkat dengan Kolam Renang Akibat Gempa. Jurnal Sipil Statik, Vol 7 6 743 Inter Story Drift pada Bangunan tanpa Set-back dan dengan Set-back Akibat GempaBerny Andreas RumimperEngelbert DkkRumimper, Berny Andreas Engelbert dkk. 2013. Perhitungan Inter Story Drift pada Bangunan tanpa Set-back dan dengan Set-back Akibat Gempa. Jurnal Sipil Statik, Vol 1 6 408 -414.
analisis struktur bangunan tahan gempa